Episode 11 - Lokasi Tambang Berdarah #11


Bener aja, gak lama setelah memejamkan mata, tiba tiba ada yang meluk dari samping sambil bilang "tempat baru nih.."

- Part #11

Aku: eh, kamu.. ngapain peluk peluk.
Saga: abisnya, dingin. lagian kenapa tidur disini, dingin gini.
Aku: enak aja, sensasi baru. 
Saga: kalo gitu, aku hangatin kamu ya.
Aku: et.. jangan macam macam..
Saga: bercanda haha.. besok beneran balik ?
Aku: iya, aku mungkin gak akan kesini lagi.
Saga: yah, gak seru lagi deh. baru dapat teman, sudah mau pergi lagi.
Aku: seperti biasa aja, kalo kesepian ya main sama tikus wkwk.
Saga: haha, seperti gak ada teman aja. aku punya banyak teman kok, tapi kan cuma kamu teman manusia ku satu satu nya. 
Aku: nanti kalau aku gak ada, kamu jangan main sembarangan lagi ya didekat manusia. mereka gak tau kamu, kalau tiba tiba di pukul gimana.
Saga: iya deh. siap bos.

Kami ngobrol panjang lebar malam itu sampai aku mulai ngantuk dan tertidur. Ke esokan pagi nya, aku terbangun dan ku lihat aku sedang berada disebuah kamar yang sangat indah dan luas. Kasur nya juga sangat empuk dengan selimut yang sangat hangat. Ku lihat di samping ku Saga masih tidur, aku pun membangunkan dia.

Aku: saga, bangun.
Saga: hah.. apa..
Aku: ini kita ada dimana ?
Saga: oh, ini di rumah ku. kamu sedang ada dikamar ku.
Aku: bukan nya tadi malam kita tidur di tumpukan beras ?
Saga: iya, sekitar jam 2 itu kamu peluk aku dengan erat.
Aku: hah.. aku meluk kamu ?
Saga: iya, kelihatan nya kamu kedinginan, jadi aku bawa kamu kesini. makanya tadi malam aku nawarin mau menghangatkan kamu, tapi kamu nya malah marah. 
Aku: ya kan aku gak tau kalau maksud kamu hangat itu, tempat hangat seperti ini. aku kira kamu mau apa apain aku. 
Saga: hahaha.. kalau kamu mau, sekaliam sih.
Aku: nah kan, mulai lagi.
Saga: iya iya, maaf, becanda.
Aku: pulang yuk. nanti aku dicariin.
Saga: pejamkan mata.

Saat aku membuka mata, kami berada di samping toko dan terdengan Jali memanggil manggil nama ku.

Aku: apa ka ?
Jali: kemana ? kok dipanggil gak jawab.
Aku: anu, itu tadi, aku lari pagi sebentar keliling seputar sini.
Jali: oh, aku kira tidur ditempat lain.
Aku: maksud nya ? (aku takut dia tau)
Jali: ya kali aja tidur di tenda tv.
Aku: oh.. gak kok.. 
Jali: ya udah, itu berkemas dulu. nanti kalau para pekerja sudah setor emas semua. langsung turun sama paman. 

Aku kemudian berkemas pakaian dan tiba tiba teringat dengan Datu Lubai, penunggu pohon pinus berlumut. Aku mau kesana tapi takutnya tidak sempat, jadi aku urungkan niatku untuk berpamitan. 

Pagi itu, ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata kata. Karena harus berpisah dengan mereka orang orang yang sudah mulai akrab dengan ku, terutama Bu'le. Tempat yang awalnya aku anggap hanya sebuah hutan yang sangat sepi, dalam beberapa hari terasa sangat bersahabat. Namun, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Siap gak siap, harus menerima ketika saat itu telah datang. 

Nah, mungkin kalian para pembaca ada yang bertanya tanya, kenapa aku tidak pernah bercerita aku bermain hp, game, atau sosmed ketika sendirian, tapi malah ke tempat bule atau jalan jalan di seputaran lokasi. Ya, karena saat itu hp ku cuma nokia layar putih, cuma bisa sms dan nelpon. Jadi, benar benar belum tau apa itu sosmed. 

Singkat cerita, aku pun di hari itu pulang dengan membawa sejuta kerinduan yang mungkin tidak dapat terobati karena aku tidak pernah lagi kembali kesana. Sampai saat ini, aku masih merindukan mereka, semoga mereka masih baik saja keadaan nya dan menjadi semakin sukses.

Kisah ini aku akhiri sampai disini, dan akan di lanjutkan kembali dalam petualangan di tempat dan waktu yang berbeda.. :) 

Komentar