Episode 23 - Tersesat Di Meratus #8

Aku kemudian lari mengejar teman teman ku, sambil berpikir dalam hati "mana ada dewa hutan. cuma patung kayu doank gitu".. 

- Part #8

Pas aku sudah sampai di rombongan, aku ikut mereka jalan sampai waktu yang beberapa lama kami tiba di sebuah persimpangan jalan. Mereka bingung mau milih jalan mana, ada yang mau ke kiri ada yang mau ke kanan. Yang memilih kanan karena mereka menganggap segala keberuntungan itu ada di kanan sedangkan yang milih kiri berpendapat bahwa hutan adalah kebalikan dari kenyataan, jika kanan adalah jalan yang benar maka dihutan harus pilih kiri.

Aku berinisiatif untuk mengundi batu "keberuntungan" yg aku dapat sama zoya dari tombak kunti itu, dimana batu itu gugur maka harus pilih jalan itu. Mereka pun setuju karena cukup adil. Batu itu aku lempar dan sengaja ku arahkan ke sebelah kanan wkwk, soalnya aku sudah tau bahwa jalan yang benar itu di sebelah kanan.  

Kami kemudian jalan mengambil arah kanan, bener aja sih kata si ular itu bahwa perjalanan nya cukup jauh. Kami baru berjalan satu jam sudah terasa cape.

Liya: duh.. ini bener gak sih jalan nya. sudah berapa lama ini kita jalan tapi belum sampai.
Ratih: sudah lah jangan ngeluh. kalo cape, kita istirahat dulu disini. 

Untung saja persediaan minum kami masih banyak, hanya saja persediaan mie instan sudah mulai menipis. Setelah istirahat yang cukup, kami lanjut perjalanan. Sampai kira kira setengah jam, kami melihat ada beberapa buah semangka. Kami langsung menghampiri buah itu dan kebetulan ada beberapa biji yang terlihat masak. 

Tanpa pikir panjang, Rico langsung membenturkan buah nya ke batang pohon dan pecah, cipratan air nya mengenai bibir ku dan gilaaaaaa, rasanya bener bener manis. Beberapa teman yang lain memetik buah yang tersisa untuk dimasukan ke dalam tas sedangkan yang kami makan bersama kalo gak salah waktu itu cuma 4 biji. Itupun sudah membuat kami kenyang karena buahnya lumayan besar. Kemungkinan itu pohon semangka liar yang tumbuh karena biji nya bekas eek binatang. 

Zoya: ayok lanjut lagi, kalo terlalu lama istirahat nanti kita bisa telat.
Adnan: ini buah yang kita bawa ada 6, cowo cowo bawa masing masing satu di tas dan satunya cewe yang bawa.
Liya: fitri tas nya besar, kamu yang bawa ya fit.
Rico: jangan pacar ku donk. buah nya aja besar masa harus bawa buah semangka lagi.
Fitri: kamu kok gitu yank, bikin malu aja.
Rico: maaf yank, becanda. tapi biar yang lain aja yang bawa. aku gak tega sama kamu.
Ayu: aku aja yang bawa, kebetulan bawaan ku sedikit.

Emang bener sih, Fitri punya "perabotan" yang besar hahaha.. Kami melanjutkan perjalanan yang lumayan lama hingga sampai didekat sebuah air. Kalo dibilang sumur boleh, dibilang danau juga boleh karena lumayan luas perairan nya. Tapi karena ular ijo bilang itu sumur, kita sebut sumur aja ya... Sumur itu memiliki air yang berwarna hijau tapi hijau nya bukan karena jernih dan pantulan langit melainkan karena airnya berlumut. Saat kami sampai disana, terlihat para anggota sekte itu sudah menuangkan darah ke kepala patung burung. 

Sepertinya kami sudah terlambat untuk menyelatkan Agus. Liya dengan cepat menutup mulut Santi, karena sebelumnya itu gara gara Santi teriak histeris yang menyebabkan kami ketahuan dan ditangkap. Setelah menuangkan darah, pemimpin ritual kembali menebas leher Agus dan mengambilnya kemudian menangkan dengan tangan ke atas sambil berlutut di hadapan patung itu. Kalian pernah liat seorang prajurit menyerahkan sesuatu kepada raja ? nah, begitulah posisi dia. 

Jika sebelumnya kami hanya sempat melihat adegan menebas kepala, kali ini kami melihat adegan yang lebih lanjut. Tidak berapa lama, patung itu mengeluarkan apa hitam dan didepan patung muncul sesosok makhluk yang mirip patung itu. Berbadan manusia, punya tangan dengan kuku yang panjang, berkaki tiga (tapi bukan larutan cap kaki tiga ya...) dan memiliki kepala burung berwajah empat. Kalau kalian pernah nonton kartun Krisna, yang mana Dewa Brahma punya wajah empat, ya begitulah bentuk kepala burung tadi, bukan bermaksud untuk menyamakan atau SARA lho ya, hanya ingin memudahkan paham aja. 

Dia mengambil kepala Agus dan menghisap ubun ubun nya kemudian kepala Agus lenyap seketika dari tangan nya. Melihat adegan itu, Santi langsung pingsan. Entah dia pingsan karena takut, atau tidak bisa bernafas gara gara hidung dan mulut nya di tutupin pakai tangan oleh Liya. Melihat Santi pingsan, Ayu membangunkan santi, "santi.. santi.. bangun santi...".. hanya saja suaranya terlalu keras hingga membuat mereka mendengar dan langsung menyadari keberadaan kami. 

Kami langsung lari dan Adnan menggendong Santi di belakang. Karena jaraknya cukup jauh dengan mereka, membuat mereka tidak bisa mengejar kami. Tiba tiba mahluk tadi sudah ada di depan kami, kami tercengang ketika melihat nya dari dekat, ternyata sangat mengerikan. Kami langsung balik arah untuk lari dengan ternyata kami malah ketemu sama orang orang sekte sesat itu. 

Sekarang, posisi kami benar benar tidak menguntungkan. Di satu sisi kami dihadang oleh mahluk mengerikan, sedangkan di sisi lain kami di hadang oleh anggota sekte sesat... 

..... Bersambung ......

Komentar