Episode 46 - Jin Kebun Karet #1

Kami kemudian melanjutkan perjalanan dan Fadly yang berada didepan karena dia yang tau tempatnya. Dan kali ini, kami sepertinya akan berhadapan bukan dengan satu atau dua jin, tapi satu kampung

- Part #1

Perjalanan kali ini cukup jauh karena keluar dari wilayah Kota Amuntai. Kami masuk ke sebuah jalan yang banyak pohon pohonan nya. Hingga masuk ke sebuah perkebunan karet yang lumayan jauh dari jalan raya. Dikarenakan saat itu malam hari, aku kurang memperhatikan di sekeliling, kami hanya fokus masuk ke dalam perkebunan.

Tempat nya sangat gelap dan banyak nyamuk, udah gitu jauh dari rumah warga jadi bener bener gak ada cahaya, cuma cahaya senter aja. Bisa bayangin deh gimana gelapnya, dan yang pastinya menyeramkan. Apalagi kebun karet ini biasanya banyak ular.

Aku: "fad, ini seriusan tempatnya kaya gini ? kok mengerikan."
Fadly: "kalau gak mengerikan, mana mungkin berhantu."
Aku: "iya juga sih. tapi maksud ku apa gak ada tempat yang lebih bagus gitu, ini banyak rumput, siapa tau di gigit ular."
Fadly: "makanya hati hati kalau jalan, ini gak jauh lagi kita sampai."
Zoya: "sebenarnya apa yang kita hadapi."
Fadly: "aku belum tau juga, tapi menurut para pekerja kebun, disini ada sebuah tanah lapang di tengah kebun, tempat itu beberapa kali di tanami pohon tapi tidak pernah ada yang hidup, hingga akhirnya pemilik kebun sadar bahwa tempat tidak di inginkan oleh penghuni nya untuk di tanami hingga dibiarkan kosong."
Zoya: "oh.. kalau begitu berarti tidak ada masalah seharusnya karena gak ada yang saling mengganggu."
Fadly: "masalahnya, beberapa waktu belakangan ini banyak pekerja yang ditakutkan oleh sosok tanpa kepala. dan mereka yakin itu perbuatan penghuni tanah lapang itu."
Aku: "lalu, ini kita kesini cuma bertiga? gak ada pemandu atau apa lah gitu."
Fadly: "gak ada. mereka semua takut. jadi cma ngasih arah aja, selanjutnya kita berusaha sendiri."

Kami terus berjalan menuju ke dalam dan tak lama setelah itu tiba tiba senter Zoya tersorot ke sebuah pohon. Di pohon itu berdiri se sosok tanpa kepala, dia membawa alat menoreh getah karet di tangan. Melihat hantu itu, aku langsung merinding. Sudah tempatnya yang sangat angker, dikagetkan pula dengan penampakan yang mengerikan seperti itu.

Melihat hantu itu, Fadly lari mengejar dan, kami juga ikut mengejar dibelakang, saat sudah dekat, dia menghilang. Kami senter senter area disekitar situ tapi sudah tak melihatnya lagi, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang dimaksud.

Saat sampai di lokasi itu, ternyata benar benar lahan kosong. Seperti sebuah lapangan sepak bola di tengah perkebunan karet. Tidak ada satupun pohon karet tumbuh disitu. Dan yang keren nya lagi, ternyata itu adalah pasar orang gaib.

Terlihat disana para mahluk gaib sedang banyak melakukan transaksi jual beli, yah, layaknya seperti dipasar tradisional pada umumnya. Tiba tiba, salah satu dari mereka ada yang menyadari kehadiran kami kemudian dia mendekat kearah kami.

Dia: "ada perlu apa datang ke tempat kami."
Fadly: "kami menerima laporan dari para pekerja sini bahwa mereka sering diganggu oleh bangsa kalian."
Dia: "kami tidak pernah mengganggu bangsa manusia selama mereka tidak mengganggu kami. selama ini kami selalu hidup damai, tidak berurusan dengan manusia."
Fadly: "lalu, siapa yang mengganggu para pekerja biasanya. mereka bilang sering dihantui oleh hantu tanpa kepala."
Aku: "benar. bahkan tadi saat kami masuk kesini, kamu sempat bertemu dengan nya."
Dia: "memang, saya pernah mendengar pembicaraan para pekerja yang sedang membicarakan bahwa mereka diganggu oleh hantu. tpi itu bukan oleh warga kami. kemungkinan dari bangsa lain, kalau warga disini, saya kenal semua karena saya pemimpin mereka jadi saya mengenal betul dengan mereka."
Fadly: "jadi, kalian tidak mengenal siapa dia ?"
Dia: "benar. kami tidak mengenal nya dan bukan warga kami."
Fadly: "kalau begitu, kami izin pamit dulu."
Dia: "kalian sudah sampai kesini, bagaimana kalau kalian melihat lihat pasar kami sebentar, mungkin ada yang membuat kalian tertarik untuk membeli, saya akan menghadiahkan nya untuk kalian. karena selama ini baru kalian yang bisa melihat bangsa kami disini."
Fadly: "bagaimana ? mau masuk?" nanya ke kami.
Aku: "aku sih ikut zoya aja, kalo zoya bilang masuk, aku masukin."
Zoya: "eh.. apaan.."
Aku: "maksudku, memasuki pasar mereka."
Fadly: "ya udah, ayo.."

Dis sekitaran pasar itu, ada sebuah dinding pembatas gaib yang mungkin itu fungsinya portal pemisah dua alam. Ketika kami memasuki portal itu, kami sudah berada di pasar. Cukup ramai keadaan pasar disana, rata rata yang mereka jual adalah rempah rempah dan kebutuhan dapur.

Ada beberapa diantara mereka yang berjualan makanan seperti sate, rendang, nasi bungkus, sop, lontong, dll. Aroma satenya sangat menusuk wangi nya. Sepertinya bumbu yang mereka gunakan berbeda dari para penjual sate di alam manusia dan aku tanya sama bapak jin tadi, katanya itu sate kelinci, kalo mau beli nanti akan dibelikan.

Karena tergoda oleh aroma sate kelinci itu, aku mau coba beberapa tusuk dan bapak tadi membelikan sepuluh tusuk. Aku suapin Zoya satu tusuk dan kasih Fadly satu tusuk, sisa 8 nya buat aku. Saat aku mau gigit, tiba tiba Zoya bilang jangan dimakan.

Zoya: "jangan di makan.."
Aku: "kenapa..."
Zoya: "ada yang aneh sama sate ini."
Fadly: "bener, sate ini aneh. gak ada rasanya."
Aku: "masa sih, aroma nya enak gini kok."

Aku langsung gigit dan ternyata beneran seperti kapas. Gak ada rasa nya sama sekali.

Fadly: "kayanya ada yang gak beres sama pasar ini."
Zoya: "bener fad. aku sudah sering makan di alam jin tapi rasanya gak pernah hambar gini."
Aku: "ya udah deh, aku ikut curiga gak beres juga.."

Kami menghampiri bapak tadi untuk bertanya ada apa dengan pasar ini. Ketika kami menepuk pundak bapak jin tadi, dia memalingkan badan dan wajahnya terlihat membusuk dan kepala nya terjatuh ke tanah.

Melihat ke hal yang demikian, kami kaget dan lari, seketika itu juga orang orang di pasar tadi kepala nya berjatuhan. Mereka semua sekarang gak ada yang berkepala. Gila, pasar yang tadinya rame tiba tiba berubah drastis jadi gersang dan di huni para jin kepala buntung.

Mereka berjalan mendekati kami, kami lari dengan sekuat tenaga menuju pintu portal namun portal itu semakin menutup seolah olah mereka sedang ingin mengurung kami di alam mereka.

Jauh di belakang terlihat bapak pemimpin desa jin tadi dia membawa tombak dan di iringi beberapa warga desa tak berkepala yang membawa parang lari ke arah kami. Melihat mereka, kami dengan cepat lari ke arah portal dan mencoba untuk menembus namun portal nya sudah tertutup. Fadly berusaha untuk membuka nya sedangkan kami jauh dibelakang. Fadly teriak "pake perisai". Zoya langsung memakai baru zirah nya sedangkan aku karena terlalu tidak fokus hingga tidak bisa konsentrasi untuk menghadirkan nya.

Saat warga bersenjata tadi sudah dekat di belakang kami, Zoya langsung mendekap ku dari belakang karena ingin melindungiku dari tombak kepala desa. Terdengar bunyi seperti dua besi yang saling menghantam, rupa rupanya tombak pak kepala desa mental ketika mengenai baju zirah yang dipakai Zoya. Anjay, aku jadi merasa terlindugi haha..

Terlihat Fadly susah bisa membuka portal gaib nya, aku langsung melepaskan dekapan Zoya dan lari ke arah portal sedangkan Zoya berkelahi dengan para warga.

Kami berdua sudah berhasil keluar namun Zoya masih ada di dalam. Saat itu aku melihat ke arah Zoya jadi rasa gimana ya emoticon-Big Grin jangan jangan Zoya bakalan mati, bayangin aja anak remaja 18 tahun dikeroyok orang banyak, sudah gitu yang ngeroyok nya jin.

Terlihat Fadly membuat segel baru sepertinya dia ingin mengurung mereka agar tidak bisa keluar lagi. Tapi Zoya masih didalam dan dia masih menunggunya untuk keluar. Setelah Zoya berhasil lari dan keluar, Fadly langsung menutup segel nya namun sayang, tiba tiba ada tombak terbang mengenai Fadly. Meskipun tombak itu tidak bisa menembus badan Fadly karena baju perisai yang di pakainya, namun itu sudah cukup membuat Fadly terpental beberapa meter dari tempatnya semula.

Segel yang dibuat Fadly pun rusak, mereka semua keluar mengejar kami. Melihat itu, kami lari tak tentu arah lagi karena takut melihat para mahluk tak berkelapa mengejar dibelakang.


***** BERSAMBUNG *****

Komentar