Tiba saat nya malam hari, karena janjian nya sekitat jam 10, maka kami pergi duluan ke kota saat itu. Aku berdua aja sama Zoya jalan jalan keliling kota malam itu, ngapain juga ngajakin Fadly.
Ada banyak tempat yang kami singgahi karena nungguin Fadly datang masih beberapa jam. Tidak lupa, kami sempat foto berdua di bawah patung bebek raksasa yang jadi maskot kota Amuntai. Hanya saja, foto nya tersimpan di hp Zoya, dan entah apa masih ada atau gak dia simpan. Seandainya nya foto nya ada di aku, mungkin akan ku upload pada episode ini biar kalian tau lucu nya Zoya berpose saat foto bareng waktu itu. Karena hp Zoya gak ada kamera depan alias selfie nya, jadi kami minta tolong kepada salah seorang yang ada disitu waktu itu untuk di fotokan.
Nah, sebagaimana maskotnya yang bebek, tentunya kota ini terkenal dengan bebek nya. Jadi, kurang sah rasanya kalo berada di kota yang terkenal akan bebek tapi belum mencoba kuliner bebek nya.
Tidak jauh dari situ, ada sebuah rumah makan pinggir jalan yang menyediakan menu bebek lalapan. Kami singgah disitu dan memesan dua porsi. Aku melihat orang orang yang lalu lalang, mereka mayoritas tidak terlihat memakai helm. Dan ternyata kata paman nya, di Amuntai emang gak apa apa gak pakai helm kalau malam hari. Pantes aja cuma kami yang pakai helm, wajar lah orang luar, jadi gak tau hehe..
Beberapa saat kemudian, saat kami sedang menyantap makanan kami singgahlah seorang pemuda memakai jaket dan helm, aku tebak dia pasti orang luar juga makanya bawa helm, atau cuma kebetulan lewat Amuntai. Dia pakai motor sendirian, tapi sebenarnya dia tidak sendiri, melaikan di ikuti oleh sesosok wanita berambut panjang didepan sampai sampai muka nya tertutupi oleh rambut.
Bau nya sangat tajam seperti bunga melati tapi sangat menyengat seperti kemenyan. Aku gak tau itu bau dari si wanita atau bau parfum dari si cowok, yang jelas bikin gak betah. Yang anehnya, cowok tadi terlihat bingung melihat kami yang gak karuan lagi akibat bau tersebut. Sepertinya dia tidak mengetahui dan tidak bisa melihat bahwa ada sosok yang mengikuti nya.
Karena hampir membuatku muntah, akhirnya aku gak sanggup untuk menghabiskan makanan ku. Zoya yang makan nya sudah selesai dan melihat makanan ku sisa sedikit namun aku sudah mau meninggalkan meja, dia menarik piring ku dan menyuapi ku agar aku menghabiskan makan nya. Anjay, kalian gak usah mikir ini seperti adegan romantis antara dua sahabat, tapi ini justru seperti adegan kejam layaknya orang yang sedang diculik dan disuruh makan secara paksa. Gak ada lemah lembutnya sama sekali nyuapin orang.
Setelah selesai makan, kami bayar dan bergegas meninggalkan tempat itu, takutnya dia bakalan ngikutin kami dibelakang, dan ternyata gak ada. Karena bingung mau kemana lagi dan tak tentu arah, akhirnya aku putuskan untuk ngajak Zoya ke Candi Agung malam itu, siapa tau malam itu kebetulan ada Pangeran Suryanata dilokasi, jadi bisa melihat dan bertemu beliau secara langsung. Zoya sih nurut aja dia. Sesampainya disana, tempatnya gelap dan jadi terlihat menyeramkan, lebih seperti area pemakaman umum dan kami memutuskan untuk membatalkan niat kami.
Kami lanjut lagi jalan entah arah yang tidak jelas kemana tujuan, sampai di jembatan yang besar, kami singgah disitu dan ngobrol ngobrol sambil menikmati angin malam yang sejuk. Sedang asik ngobrol berduaan, tiba tiba ada yang menepuk belakang Zoya dan berkata.
"Hati hati, jangan terlalu dipinggir. Nanti kalau terjatuh bisa bahaya."
Mendengar perkataan nya, kami langsung menoleh ke arah belakang dan ternyata ada seorang lelaki tua memakai tongkat.
Zoya: "iya, makasih atas nasehatnya."
Jin Tua: "disini pernah kejadian ada beberapa anak muda yang sedang pacaran. mereka saling bercanda dan salah satu wanita dari pasangan itu terjatuh kebawah sungai dan mayatnya tidak ditemukan."
Zoya: "lalu, apa yang terjadi selanjutnya."
Jin Tua: "mereka menyalahkan bangsa kami yang melakukan. manusia memang selalu suka menyalahkan orang lain atas keteledoran mereka sendiri. padahal kami hanya berdiam disini, tidak pernah menganggu orang lain."
Zoya: "kami? jadi, disini ada beberapa jin lain ?"
Jin Tua: "benar. disini bukan cuma aku, masih ada beberapa jin lain. hanya saja sekarang mereka sedang tidak disini."
Jin Tua: "kalian sedang ada disini ?"
Zoya: "kami cuma numpang duduk disini, sambil nunggu teman."
Jin Tua: "baiklah.. kalau begitu saya pamit pergi dulu."
Dia kemudian berjalan ke arah pinggir kemudian menghilang. Sebenarnya, gak semua jin itu menyeramkan, banyak kok mereka yang ramah dan suka ngobrol.
Setelah beberapa kami lama ngobrol berdua di jembatan, kami kembali lagi ke patung bebek karena janji ketemuan sama Fadly nya disitu. Dan Fadly pun datang sekitar jam sepuluh kurang sedikit, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Sekolah SD yang sudah menjadi target sebelumnya.
Ada banyak tempat yang kami singgahi karena nungguin Fadly datang masih beberapa jam. Tidak lupa, kami sempat foto berdua di bawah patung bebek raksasa yang jadi maskot kota Amuntai. Hanya saja, foto nya tersimpan di hp Zoya, dan entah apa masih ada atau gak dia simpan. Seandainya nya foto nya ada di aku, mungkin akan ku upload pada episode ini biar kalian tau lucu nya Zoya berpose saat foto bareng waktu itu. Karena hp Zoya gak ada kamera depan alias selfie nya, jadi kami minta tolong kepada salah seorang yang ada disitu waktu itu untuk di fotokan.
Nah, sebagaimana maskotnya yang bebek, tentunya kota ini terkenal dengan bebek nya. Jadi, kurang sah rasanya kalo berada di kota yang terkenal akan bebek tapi belum mencoba kuliner bebek nya.
Tidak jauh dari situ, ada sebuah rumah makan pinggir jalan yang menyediakan menu bebek lalapan. Kami singgah disitu dan memesan dua porsi. Aku melihat orang orang yang lalu lalang, mereka mayoritas tidak terlihat memakai helm. Dan ternyata kata paman nya, di Amuntai emang gak apa apa gak pakai helm kalau malam hari. Pantes aja cuma kami yang pakai helm, wajar lah orang luar, jadi gak tau hehe..
Beberapa saat kemudian, saat kami sedang menyantap makanan kami singgahlah seorang pemuda memakai jaket dan helm, aku tebak dia pasti orang luar juga makanya bawa helm, atau cuma kebetulan lewat Amuntai. Dia pakai motor sendirian, tapi sebenarnya dia tidak sendiri, melaikan di ikuti oleh sesosok wanita berambut panjang didepan sampai sampai muka nya tertutupi oleh rambut.
Bau nya sangat tajam seperti bunga melati tapi sangat menyengat seperti kemenyan. Aku gak tau itu bau dari si wanita atau bau parfum dari si cowok, yang jelas bikin gak betah. Yang anehnya, cowok tadi terlihat bingung melihat kami yang gak karuan lagi akibat bau tersebut. Sepertinya dia tidak mengetahui dan tidak bisa melihat bahwa ada sosok yang mengikuti nya.
Karena hampir membuatku muntah, akhirnya aku gak sanggup untuk menghabiskan makanan ku. Zoya yang makan nya sudah selesai dan melihat makanan ku sisa sedikit namun aku sudah mau meninggalkan meja, dia menarik piring ku dan menyuapi ku agar aku menghabiskan makan nya. Anjay, kalian gak usah mikir ini seperti adegan romantis antara dua sahabat, tapi ini justru seperti adegan kejam layaknya orang yang sedang diculik dan disuruh makan secara paksa. Gak ada lemah lembutnya sama sekali nyuapin orang.
Setelah selesai makan, kami bayar dan bergegas meninggalkan tempat itu, takutnya dia bakalan ngikutin kami dibelakang, dan ternyata gak ada. Karena bingung mau kemana lagi dan tak tentu arah, akhirnya aku putuskan untuk ngajak Zoya ke Candi Agung malam itu, siapa tau malam itu kebetulan ada Pangeran Suryanata dilokasi, jadi bisa melihat dan bertemu beliau secara langsung. Zoya sih nurut aja dia. Sesampainya disana, tempatnya gelap dan jadi terlihat menyeramkan, lebih seperti area pemakaman umum dan kami memutuskan untuk membatalkan niat kami.
Kami lanjut lagi jalan entah arah yang tidak jelas kemana tujuan, sampai di jembatan yang besar, kami singgah disitu dan ngobrol ngobrol sambil menikmati angin malam yang sejuk. Sedang asik ngobrol berduaan, tiba tiba ada yang menepuk belakang Zoya dan berkata.
"Hati hati, jangan terlalu dipinggir. Nanti kalau terjatuh bisa bahaya."
Mendengar perkataan nya, kami langsung menoleh ke arah belakang dan ternyata ada seorang lelaki tua memakai tongkat.
Zoya: "iya, makasih atas nasehatnya."
Jin Tua: "disini pernah kejadian ada beberapa anak muda yang sedang pacaran. mereka saling bercanda dan salah satu wanita dari pasangan itu terjatuh kebawah sungai dan mayatnya tidak ditemukan."
Zoya: "lalu, apa yang terjadi selanjutnya."
Jin Tua: "mereka menyalahkan bangsa kami yang melakukan. manusia memang selalu suka menyalahkan orang lain atas keteledoran mereka sendiri. padahal kami hanya berdiam disini, tidak pernah menganggu orang lain."
Zoya: "kami? jadi, disini ada beberapa jin lain ?"
Jin Tua: "benar. disini bukan cuma aku, masih ada beberapa jin lain. hanya saja sekarang mereka sedang tidak disini."
Jin Tua: "kalian sedang ada disini ?"
Zoya: "kami cuma numpang duduk disini, sambil nunggu teman."
Jin Tua: "baiklah.. kalau begitu saya pamit pergi dulu."
Dia kemudian berjalan ke arah pinggir kemudian menghilang. Sebenarnya, gak semua jin itu menyeramkan, banyak kok mereka yang ramah dan suka ngobrol.
Setelah beberapa kami lama ngobrol berdua di jembatan, kami kembali lagi ke patung bebek karena janji ketemuan sama Fadly nya disitu. Dan Fadly pun datang sekitar jam sepuluh kurang sedikit, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Sekolah SD yang sudah menjadi target sebelumnya.
**** BERSAMBUNG ****
Komentar
Posting Komentar