Episode 57 - Kebun Pisang Pak Adi #4


Melihat kehebatan kakek, jin itu mulai gentar sempat mundur beberapa langkah. Dia tetap menyerang dan yang diserang kali ini adalah si kakek, para murid murid perguruan itu langsung berlari melindungi si kakek.

- Part #4

Namun mereka terlambat, tongkat si kakek lebih dahulu menangkis serangan dari Mediator #1 dan sempat memukul nya di bagian paha. Mediator #1 langsung mundur kesakitan. Kelihatan nya, kakek ini bukan lah lawan yang mudah untuk mereka bereskan.


Dengerin musik sambil baca kayanya enak hehe..


Mereka berdua kemudian bergabung untuk menyerang si kakek. Dengan penggabungan tenaga dalam, mereka sepertinya ingin menyerang dan melumpuhkan si kakek. Namun, kakek tadi melemparkan tongkat nya ke arah mereka berdua dan mereka langsung terpental kebelakang. Mediator #2 langsung bangkit dan menyerang kakek dengan pedang nya. Lagi lagi, kakek itu cuma menghentakkan tangan nya ke tanah, Mediator #2 langsung jatuh tersungkur ke tanah.

Melihat keadaan sudah mulai kualahan, si kakek tadi berkata kepada para remaja perguruan silat itu "ikat" dan mereka semua masing masing menggunakan sebuah rantai (gaib) mengikat jin berdua tadi dari segala arah. Mereka berdua tidak dapat berbuat apa apa lagi. Kakek tadi menghampiri mereka dan mengambil tongkat yang dilemparkan nya tadi dan pergi dari tempat itu.

Sekarang, giliran mereka yang membereskan dua jin yang sudah tak berdaya ini. Fadly mendekati mereka (para jin) dan menggunakan salah satu selendang yang mengikat di pinggang nya (di episode sebelumnya, pernah ku ceritakan bhwa fadly itu selain selalu memakai pakaian gaib berupa baju perisai saat "berburu" hantu, dia juga memakai beberapa selendang di pinggang nya, serta membawa pedang di punggungnya). Nah, sedangkan selendang yang ku ceritakan ini, bukan selendang yg pakaian gaib nya itu, tapi emang selendang beneran yg bisa dilihat oleh mata.

Fadly menutupkan selendang nya ke kepala Mediator #1 sambil memegang kepala Mediator #1, kemudian selendang itu di tariknya sambil berteriak "Allahu Akbar". Jin yang ada di dalam Mediator #1 tadi langsung lenyap dan tubuh si mediator langsung lemas.

Fadly kemudian mendekati Mediator #2 dan sempat terjadi beberapa percakapan.

Fadly: "apa sebenarnya mau mu berada disini."
Mediator #2: "aku hanya memenuhi tugas dari sahabat ku untuk selalu melindungi keturunan nya."
Fadly: "apa maksud mu dengan melindungi."
Mediator #2: "kami membuat sebuah perjanjian, dan aku akan menjaga dia serta membantu nya dalam menghadapi para penjajah pada masa itu."
Fadly: "sekarang kan dia sudah gak ada. ngapain kamu terus ikut sama keturunan nya."
Mediator #2: "karena aku sudah berjanji untuk melindungi nya, ketika dia sudah tidak ada maka aku akan berpindah kepada keturunan nya."
Fadly: "tapi cara mu salah. gak ada yang mau dilindungi sama kamu kalo kamu brutal. orang gak ngasih sesajen aja di ganggu."
Mediator #2: "itu sudah jadi kewajiban mereka. karena mereka yang memulai nya."
Fadly: "gini aja, kamu mau berhenti untuk mengikuti mereka atau kamu akan aku musnahkan."
Mediator #2: "aku tidak akan pernah untuk pergi. aku akan selalu mengikuti hingga sampai keturunan nya yang akan datang."
Fadly: "wah.. gak bisa dibiarkan mahluk gini, cuma jadi parasit."

Fadly kemudian memukulkan selendang nya ke dada Mediator #2 tadi dan jin nya langsung terpental keluar lalu terbakar. Aku ya juga sempat berpikir, kalo tu selendang bisa membunuh jin kaya gitu, kenapa gak dikeluarin dari tadi. Apa memang senjata pamungkas hanya bisa dikeluarkan di akhir atau memang ada waktu yang tepat untuk mengeluarkan nya.

Sekarang, semua sudah aman dan kondisi juga sudah kondusif. Para warga sebagian sudah mulai sedikit demi sedikit pulang, sedangkan mereka masih saling memulihkan tenaga karena tenaga mereka cukup banyak terkuras dalam pertarungan tadi, mereka juga punya banyak luka dalam.

Skip Aja.. Kami kemudian saling berpisah untuk pulang. Fadly mengantar ku pulang dengan motornya. Diperjalanan, aku sempat tanya siapa kakek yang hebat tadi, ternyata dia salah satu sesepuh dalam dunia seni bela diri. Beliau adalah orang tua dari guru para anak anak silat itu, pantes aja mereka menyebut si kakek dengan sebutan Eyang.

Sesampainya dirumah, aku ajak Fadly masuk dulu dan ajakin dia makan, soalnya aku berangkat itu masih belum makan. Fadly awalnya menolak pas ku ajak makan, tapi karena ku paksa akhirnya dia mau. Aku tanya dia apa ada urusan lagi setelah ini, dia bilang gak ada. Ya sudah, berarti dia punya banyak waktu untuk malam itu. Aku ajak dia ke belakang rumah di sawahan yang sebelum nya aku sama Zoya pernah liat kuyang.

Ku bilang ke dia bahwa kami pernah melihat kuyang, siapa tau malam ini bisa liat kuyang lagi dan berencana mau nangkap sama Fadly. Aku cari semak yang rerumputan yang agak tebal supaya bisa tiduran disitu berdua. Aku ajakin Fadly untuk menunggu kuyang itu dan aku minta dia cerita tentang pengalaman apa aja yang pernah dia temui semasa berburu hantu.

Lumayan banyak dia cerita waktu itu, dan kisahnya bisa dibilang seru sekaligus menegangkan, hanya saja gak perlu ku ceritain disini karena itu kisah dia, bukan kisah ku. Sekitar hampir dua jam kami ngobrol, gak ada juga terlihat kuyang, udah gitu badan mulai gatal gatal karena tiduran di semak, apalagi banyak nyamuk. Akhirnya kami memutuskan untuk balik ke rumah aja.

Fadly pamit pulang, padahal dia ku ajakin untuk sekalian nginap aja di tempat ku. Tapi kata nya takut orang tua nya nyariin karena dia belum izin. Ya sudah sih, dia pun pulang.

Aku masuk ke kamar, ku lihat jam sekitar jam 11 lebih, aku masih belum bisa tidur. Akhirnya aku telpon Zoya, nanya nanya kabarnya disana gimana. Kami telponan sekitar hampir jam setengah satu karena banyak yang dibicarakan, terutama cerita soal kejadian tadi di kebun pak Adi. Dia menyayangkan karena gak sempat untuk ikut.

Udah aja ceritanya ya,,, jadi malah ingat lagi aku sama Zoya wkwk.. malam itu pokoknya gak ada lagi kejadian mistis, jadi ku akhiri sampai sini aja dulu.


Dengerin musik dulu sebelum kalian pergi hehe..

***** BERSAMBUNG *****

Komentar