Meskipun suara masjid tadi jauh, setidaknya ada harapan kami bisa menemukan pemukiman terdekat.
- Part #10
Kami berjalan agak lumayan utk beberapa waktu dan sampailah di sebuah jalan, dari sini tau lah kami bahwa sedang berada di wilayah gunung. Soalnya terlihat jalan nya semakin meninggi menuju ke atas.
Hari itu masih agak gelap namun sudah bisa melihat cahaya karena mulai masuk waktu subuh. Kami terus berjalan menuju ke bawah dan bertemu sebuah warung. Pemilik warung nya menyapa.
Ibu Warung: "mau kemana kalian, ayo sarapan dulu sebentar."
Aris: "kita singgah sebentar dulu disini, kita isi perut dulu."
Kami: "oke.."
Akhirnya kami singgah sebentar di warung itu. Untungnya, Aris bawa dompet.
Ibu Warung: "mau pesan apa?"
Aris: "aku mie rebus aja sama teh hangat.."
Aku: "aku juga"
Dan mereka semua juga sama ikut memesan seperti yang kami pesan, karena dingin dingin begini suasana nya, perlu yang hangat hangat.
Kemudian, ada beberapa orang yang bersepeda singgah.
Orang: "kalian habis dari mana. kok kotor gini."
Gundri: "habis kemah pak, pas mau balik keluar, kami dikejar babi hutan."
Orang: "oh.. kalian hati hati, disini ada cerita yang bilang kalo malam tahun baru, bakalan ada siluman buaya cari tumbal."
Gundri: "di hutan sini?"
Orang: "benar. saya diceritain sama keponakan saya sendiri. tahun lalu dia sama rombongan nya berkemah disini dan keponakan saya sempat melihat ada orang yang ditangkap oleh manusia berkepala buaya."
Ibu Warung: "mana ada cerita seperti itu. saya sudah lama disini gak pernah dengar. kalian jangan percaya sama tahayul."
Aku cuma bisa senyum dan bicara dalam hati "kalian cma denger cerita, kami barusan mengalami."
Setelah selesai makan, kami kebetulan ada orang lewat turun pakai mobil dan mengklakson kami karena kami berjalan ditengah jalan. Orang itu ternyata cuma berdua didalam mobil, suami istri.
Orang: "kalian mau kemana?"
Aku: "mau keluar..."
Orang: "kebetulan kami juga mau turun. ikut kami aja, masih lumayan jauh ini kalo jalan kaki."
Kami pun dengan senang hati untuk ikut, di sepanjang jalan mereka (pemilik mobil dan teman2) saling ngobrol dan saling tanya. Aku gak terlalu memperhatikan mereka, jadi lupa percakapan apa aja yg mereka obrolin. Jadi, gak aku ceritain aja ya, karena aku waktu itu cma melihat lihat disekitar dan masih kepikiran dengan kejadian tadi malam.
Diperjalanan menuju keluar, aku ingat ada melewati sebuah tugu besar yang ada ukiran manusia warna emas. Kata Gundri sih, itu Sultan Adam dan kami sedang berada di Tahura (Taman Hutan Raya).
Setelah kami sampai di jalan aspal, pemilik mobil tanya kami mau disinggahin dimana. Kami bilang kami juga gak tau mau singgah kemana. Mereka jadi bingung, mungkin saat itu yang ada dipikiran mereka "ini sudah jauh dibawa turun, kok belum turun juga dari mobil, jangan2 mereka jalan kaki dari banjarmasin kesini".
Nah, untung nya beliau berdua ini orang Gambut, jadi bisa nebeng mereka karena se arah menuju kost.
Di kota Banjarbaru, Roni mengajak kami untuk singgah di sebuah rumah, kata nya itu teman dia yang bisa mengobati dengan pengobatan herbal, jadi kami semua turun disitu dan berpisah dengan mereka (pemilik mobil).
Sampai disini, sebenernya gak ada kisah kisah mistis lagi. Karena disitu kami mengobati Jesita dan setelah nya pulang menggunakan taksi. Dan setelah sampai di Kost, tentu mereka merasa aneh dengan hilang nya kami. Tapi gak usah di ceritain ya, karena gak seru juga haha. So, kita akhiri aja episode kali ini sampai disini karena besoknya aku sudah pulang lagi ke kampung halaman.
Ada banyak misteri yang masih belum terungkap, misalnya seperti si merah yang katanya penunggu atm, atau wanita rambut pendek yang mana para penghuni kost gak pernah melihat nya.
Hanya saja, yang sangat disayangkan adalah ketika aku berada di Banjarbaru, aku gak bawa hp. Jadi aku gak bisa nelpon Zoya nanya dimana rumah nya, karena lumayan kangen juga sudah beberapa bulan gak ketemu.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar