Episode 86 - Rumah Tak Bertuan #16

Aku dan Alex tercebur ke parit dan untung motor nya nyangkut di rerumputan, gak ikut masuk ke dalam air. Terlihat dijalan, ada berdiri sosok yang nongkrong di menara tadi.

- Part #16 (Bola Api Terbang)

Aku: lari lex.. dia ada di depan
Alex: jangan takut.. kita tenang, kalo kita tenang, dia gak bakal ganggu kita.

Kemudian kunti tadi semakin mendekat dengan di iringi suara tertawa yang mengerikan. Alex langsung lari ke dalam perkebunan sawit, karena kami masih ada di area sawit jalan kiri kanan jalan isi nya pohon pohon sawit.

Aku: kemana kamu lari lex.. tunggu aku, aku gak liat.
Alex: aku disini (hanya terdengar suara samar samar, dia sudah jauh lari)

Aku dengan cepat lari menyusulnya, takutnya dia terlalu jauh dan gk bsa lagi ku temukan. Sampai disebuah pohon sawit besar, dia duduk di bawahnya.

Alex: sini duduk dulu. aku cape.
Aku: kamu terlalu cepat lari nya lex, aku gak kuat, hampir aku nyasar tadi (sambil ngos ngosan)
Alex: maaf, tadi aku gak sengaja lari. 
Aku: katanya tenang. malah lari duluan. gak setia kawan. 
Alex: maaf maaf. tadi aku kaget liat yang di atas pohon.
Aku: yang mana.
Alex: yang di sebrang jalan, ada pohon pisang. di atas nya ada aku liat hantu tanpa kepala. dia bawa arit di sebelah kanan dan di tangan kiri membawa kepala. makanya aku lari.
Aku: aku gak sempet liat kemana mana tadi. soalnya terlalu fokus sama hantu.
Alex: sumpah, itu tadi sangat ngeri. itu mungkin hantu yang jadi buah bibir dikalangan pekerja sawit disini. kalo kuntilanak, itu sudah biasa. hampir semua kebun sawit ada kuntilanak. sedangkan hantu tanpa kepala, disini sangat ditakuti karena dia bawa arit. meskipun belum ada kasus orang disini yang mati dibunuh hantu, tapi apa salahnya untuk menghindar. 
Aku: kalo bener apa yang kamu bilang, berarti tempat ini ngeri.
Alex: ya iyalah.. coba kamu pegang, jantung ku rasanya mau copot. (dia kemudian menarik tangan ku dan meletakan di dada nya, sangat terasa jantung nya berdetak kencang)
Aku: eh iya bener. terus ini gimana, motor mu masih disana. kuncinya juga masih disana kan. kalo hilang gimana.
Alex: mending hilang motor daripada hilang nyawa.
Aku: tetep aja, aku gak enak. kan semua ini gara gara kamu nganterin aku. 
Alex: udah, santai aja. jangan mikirin macam macam dulu. kita isitirahat dulu disini sebentar. aku masih cape. 

Kami berdua bersandar dibawah pohon itu untuk istirahat sebentar. Tak lama setelah itu, ada suara klakson yang berbunyi beberapa kali. Kami keluar menuju suara itu, ternyata Rifky, dan hantu tadi juga sudah gak ada terlihat disekitar.

Rifky: oy.. kemana aja, lama banget. ditungguin dari tadi, eh ternyata sedang asik pacaran di tempat gelap. tu motor parkir yang bener dulu kalo mau enak enak, jatoh ke semak tu.
Alex: pacaran mbah mu.. 
Rifky: mbah ku, mbah mu juga. terus, ngapain kalian di tempat gelap tadi. baju juga acak acakan.
Alex: tadi ada hantu tanpa kepala. jadi kami lari.
Rifky: kenapa lari. kan bawa motor. tinggal di gas. bukan malah dilempar sembarangan.
Alex: awalnya tadi aku kaget tiba tiba ada kunti didepan. jadi aku nyungsep di semak dan kami masuk parit, makanya acak acakan gini baju. lalu ada hantu tanpa kepala dan kami lari.
Rifky: haha.. alasan mu gak masuk akal. kalian pacaran kan. mana cewe nya, pasti cewe warung kalian bawa kesini. hmmm.. ikutan donk, kebetulan habis nonton tadi jadi tegang, perlu pelampiasan ini. 
Alex: udah lah.. kita pulang aja. mau aku bawa ke bengkel dulu ni motor.
Rifky: loh.. kok pulang, kasian cewe nya ditinggal.
Alex: kamu sendiri, ngapain bisa ada disini.
Rifky: aku khawatir sama kalian dari tadi masih belum sampai, jadi ku susul. ternyata kalian asik ganti oli sama gadis sawit.

Kemudian Alex berjalan ke arah motornya dan menghidupkan motor lalu menyuruh ku naik sambil berbicara "gak usah ladenin orang gak waras itu." dan kami melaju meninggalkan tempat itu.

Sampai di sebuah bengkel yang gak jauh dari rumah Rifky, Alex singgah untuk memperbaiki motornya, dan ternyata ditempat terang baru kelihatan banyak lecet lecetnya karena masuk ke semak semak, mungkin kena ranting. Untungnya gak ada yang sampai pecah. 

Dikarenakan montir nya cuma ada 2 orang dan kebetulan juga ada beberapa motor yang masih antri, Alex mengajak ku ke tempat Rifky dan biar motor nya ditinggal disini, gak usah ditungguin. 

Kami ke rumah dan Rifky membawa kami ke ruang dalam, dia mengambilkan kotak perlengkapan obat obatan untuk mengobari luka kami. Aku sih cuma tergores sedikit aja, tapi Alex banyak luka di bagian leher dan tangan nya, belakang nya juga ada beberapa luka dan baju nya sobek. Dan kaki nya berdarah, kayanya kena duri sawit (eh, sawit itu ada durinya gak sih wkwk, entah lah dia kena duri apa). 

"Kalian disini dulu ya, obati luka kalian. aku mau keluar dulu, ada orang beli pulsa. sambil mau lanjutin nonton." kata Rifky sambil meninggalkan kami. Aku bantu obati luka Alex dengan obat merah dan beberapa perban luka. Alex menceritakan kepada ku tentang beberapa kisah hantu yang pernah terjadi di kebun sawit itu.

Kata nya, kalo kasus dijaga kuntilanak, itu sudah sangat biasa terjadi. Hanya saja, kuntilanak itu biasa mereka temui di tempat sepi, misal nya ketemu di jalan atau disungai. Sedangkan untuk hantu tanpa kepala itu, walaupun jarang ditemui, tapi pernah beberapa kali ada pekerja sawit yang menemui nya di wilayah pemukiman warga. 

Ada yang melihatnya di lapangan bulu tangkis, di jembatan, di sekolahan, ada pula yang melihat nya di gudang mesin diesel. Karena pemukiman mereka itu jauh dari keramaian, masuk ke dalam perkebunan sawit, tentunya gak masuk listrik. Jadi hanya mengandalkan mesin diesel sebagai penyuplai listrik bagi perumahan di area pemukiman itu. 

Yang lebih ngeri nya, pernah ada warga yang sampai dimasuki ke dalam rumah. Ini yang paling heboh ceritanya waktu itu karena membuat geger, ada beberapa pekerja yang memilih pindah. 

Asal usul hantu itu sendiri belum diketahui secara pasti kenapa bisa sampai meneror warga. Para warga disana hanya berpendapat bahwa itu adalah roh pekerja dulu yang mati saat pembukaan lahan, makanya rohnya tidak tenang. Ada juga yang mengatakan itu hantu jepang yang mati terbunuh oleh para pribumi. Apapun alasan nya, itu hanya spekulasi tanpa dasar. Yang jelas, kita tau sendiri bahwa orang mati gak akan jadi hantu. 

Setelah ngobrol lama dan luka nya selesai di obati, Alex mengajak ku keluar untuk gabung sama Rifky nonton anime. Ya udah, aku ikut aja walaupun gak terlalu suka. Setelah selesai satu episode itu, aku bilang mau pulang karena sudah beberapa malam ini gak tidur di barak, gak enak aku nanti dikira anak liar. 

Awalnya Rifky mengajak ku untuk nginap aja di tempatnya malam ini, tapi aku menolak, gak enak aku karena baru kenal. Alex juga bilang gak usah pulang, dia pun katanya malam ini juga bakalan nginap disini karena motor nya masih di bengkel. Mendengar Alex mau nginap juga, bertambah yakin aku untuk pulang. Aku gak bisa ngebayangin apa yang bakal mereka lakukan sebelum tidur. 

Apalagi, tadi di sawit Rifky sempat bilang butuh pelampiasan wkwk. Kalo aku nginap,  bisa di ajakin mereka lomba onani, ogah banget, aku gak suka dengan hal hal yang aneh macam itu. Jadi aku memutuskan untuk pulang dan berterima kasih sama Alex karena udah mau bantuin aku ambil hape.

Karena motor Alex masih di bengkel, Alex nya juga masih luka luka, sementara Rifky nungguin toko nya, jadi aku pulang jalan kaki aja dan menolak untuk di antar, aku gak mau terlalu merepotkan mereka. 

Aku berjalan kaki sampai di semak tempat aku lempar kotak hape, aku berbelok ke sana dan mengambil kotak hape. Untungnya gak ada yang ngambil. Setelah itu aku meneruskan perjalanan, kemudian ada suara klakson motor di belakang. 

Ternyata Alex, dengan motornya Rifky. 

Alex: ayo sini naik, aku antar.
Aku: kan aku bilang gak usah. nyusahin aja. kamu lagi sakit.
Alex: udah, gapapa, cuma luka kecil begini gak sakit kok.
Aku: tapi kan tetap aja, baru di obati, setidaknya istirahat sebentar sampai lukanya mengering.
Alex: naik aja, aku sudah disini masa kamu tega nyuruh aku balik lagi.
Aku: ya udah lah kalo kamu maksa (padahal dalam hati ku "yes, lumayan gak cape jalan kaki") 

Sampai didepan bakso, ada Jajay manggil dan kami singgah. 

Jajay: habis dari mana.
Aku: dari tempat rifky, beli hape. ini.. (sambil ku perlihatkan)
Jajay: wih hp baru. sini dulu sebentar. ada yang mau aku omongin

Aku dan Alex turun dari motor dan Alex memarkirkan motor di depan bakso. Kami masuk ke dalam dan duduk.

Aku: ada apa emang nya, itu yang sakit sudah sembuh gak.
Jajay: sudah agak baikan dan sudah bisa kerja.
Aku: oh, syukur kalo gitu. ada apa ni. kayanya penting.
Jajay: kami berencana, mau ke depan lagi (rumah kosong didepan).
Aku: hah.. masih gak jera? 
Jajay: iya, masih penasaran. rifan katanya mau sekali lagi. masih belum puas.
Aku: yang kemaren aja hampir melayang nyawa. 
Alex: ada apa ni, kayanya serius banget.
Jajay: lex, mau ikut gak, kita uji nyali di rumah kosong itu.
Alex: ayo, siapa takut. kamu ikut kan (katanya, nanya ke aku)
Aku: gak tau ni. terlalu berbahaya.
Alex: ayo lah, ikut aja. nanti aku ikut juga.
Aku: kamu ikut aja, kenapa harus sama aku.
Alex: makin banyak orang, makin seru. atau gak, aku ajakin rifky juga deh, supaya kamu mau ikut.
Aku: oke deh..
Jajay: oke, berarti ini deal ya. nanti aku kasih tau rifan dan ahmad, mereka masih sibuk dibelakang.
Alex: jadi, kapan kita beraksi.
Jajay: mungkin dua atau tiga malam lagi, nunggu luka rifan bener bener sembuh. 
Aku: oke, deal ya. nanti kamu kasih tau aja sama mereka. aku mau pulang dulu ya.
Jajay: sip.

Aku dan Alex pergi dari situ dan lanjut ke barak untuk mengantarkan aku pulang. Dia kemudian kembali lagi untuk pulang. Dan orang rumah terlihat masih ada di bangku depan. Sedang ngobrol sambil merokok dan minum kopi.

Sampai disitu, aku ikut gabung dengan mereka dan mereka sedang membahas perihal pekerjaan. Sampai sekitar jam setengah dua belas, kami masuk ke dalam dan mereka masing masing masuk ke kamar untuk tidur, aku berbaring didepan tv sambil nonton tv sendirian. 

Setelah beberapa lama nonton, aku ngantuk dan mematikan lampu untuk tidur. Entah sudah berapa lama aku terlelap dalam tidur, antara tidur dan sadar aku merasa ada yang memeluk ku dari belakang. Aku kira aku sedang di kamar Rifky dan menginap ditempatnya, jadi sempat mengira itu dia, aku buka mata dan yang ku lihat adalah aku sedang berada di barak. Saat berbalik, ternyata Ayu, hadehhh,, ganggu aku tidur aja dia ini.

Ayu: kenapa? gak suka ya? 
Aku: ngapain sih tengah malam gini ganggu aku tidur aja.
Ayu: iseng aja, soalnya kamu jarang tidur disini.
Aku: kebetulan aja ditempat teman. lain kali jangan bikin kaget lagi.
Ayu: iya, janji..

Aku kembali lanjut tidur, sambil dalam hati ku berkata "enak juga tidur kaya gini..." jadi keinget waktu di amuntai wkwkw... 

Sekitar jam setengah empat, aku terbangun dari tidur karena mau kencing, ku lihat Ayu sudah gak ada lagi. Karena aku males untuk ke wc, aku tinggal buka pintu luar dan kencing di bawah pohon didepan barak. 

Tiba tiba ada terlihat cahaya kuning kemerah merahan dari jauh. Awalnya aku mengira itu bintang jatuh, tapi anehnya jalan datar secara horizontal, sedangkan bintang jatuh pasti turun dari atas ke bawah. 

Aku sempat merinding, karena sempat terpikir itu mungkin saja kuyang. Aku terus memperhatikan dan cahaya itu semakin mendekat dan melesat melewat pandangan ku. Tapi bukan didepan mata ya, dia terbang di sebrang jalan di atas rumah rumah orang. Persis seperti kobaran api, dia bukan kuyang, lebih tepat nya bola api. Hanya saja, dia bukan terbang sendiri melainkan ada sosok yang membawanya terbang. 

Aku cepat cepat masuk ke dalam, takutnya dia berbalik arah dan mendatangi ku. Aku kembali melanjutkan tidur sambil memikirkan betapa ngerinya api melayang tadi. Pagi harinya, kami di telpon sama pemilik bangunan bahwa libur dulu kerja, karena tetangga sebelah sedang ada yang meninggal. Jadi, diliburkan saja pekerjaan hari itu karena gak enak sama tetangga. 

Mendengar berita itu, aku jadi bertanya tanya, apa ini ada hubungan nya dengan bola api yang ku lihat tadi malam ?

Komentar